04/04/2021

Banyumas Pos

Cablaka-Optimis-Berani

Tak Ada Sinyal, SDN 4 Kalisat Kidul Gunakan Satelit Lapan untuk Pembelajaran

BANJARNEGARA (BANYUMAS POS) – Bagi daerah terpencil, kendala utama pembelajaran jarak jauh yakni kurang ketersediaannya jaringan atau sinyal yang tidak mendukung.

Namun, hal tersebut dapat diatasi oleh mahasiswa yang mengajar di SDN 4 Desa Kalisat Kidul, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara.

Mereka melakukan uji coba pembelajaran jarak jauh melalui SSTV Satelit IO-86 LAPAN A2 ORARI, Sabtu (3/4/2021).

Para mahasiswa ini merupakan peserta Kampus Mengajar, program dari Kemendikbud di seluruh Indonesia untuk membantu pembelajaran di SD 3T.

Di Banjarnegara sendiri terdapat sekitar 100 mahasiswa yang di terjunkan di 16 SD dengan klasifikasi 3T.

Havid Adhitama, mahasiswa PGSD Unnes yang ditugaskan di SDN 4 Kalisat Kidul mengatakan, uji coba SSTV bukan tanpa alasan, karena menurutnya sekolah tersebut benar-benar terisolir dari sinyal komunikasi digital.

“Disini sinyal untuk akses internet tidak ada, jangankan internet, untuk SMS saja tidak bisa. Siswa dan guru kesulitan untuk berkomunikasi dan mengakses media dari daerah lain,” ungkap Havid.

Havid dan rekan satu timnya, akhirnya berinisiatif untuk melakukan uji coba berkirim media melalui mode SSTV.

Dalam uji coba SSTV ini, mereka berkerjasama dengan LAPAN RI dan AMSAT-ID melalui Organisasi Amatir Radio Indonesia.

“Cukup memperihatinkan melihat kondisi seperti ini, guru mesti menuju ke daerah lain dengan akses jalan yang sulit untuk mengambil LK ataupun bahan pembelajaran di kelas,” ujar Havid.

Havid menambahkan, dia mencoba dengan terobosan baru untuk mengatasi permasalahan ini agar kedepan guru yang mengajar tidak lagi kesulitan untuk mendapatkan selembar LK ataupun bahan ajar.

“Sebelumnya kami telah berkoordinasi dengan LAPAN untuk diberikan slot khusus SSTV Satelit IO86 dan LAPAN sangat mendukung gagasan kami,” ucapnya.

Para Mahasiswa menerima media tersebut di lokasi mereka mengajar, sedangkan pengirimnya berada di Jakarta yaitu stasiun YD0NXX.

“Ini murni tanpa internet, kami menerimanya pada downlink satelit IO-86 di 435.880mhz,” kata Havid.

Menurut Havid, untuk berkirim media seperti ini tidak harus melalui satelit LAPAN ataupun radio amatir berizin, tetapi pemerintah bisa berkerjasama dengan RRI untuk mentransmisikan SSTV melalui radio siaran biasa sehingga lebih terjangkau oleh masyarakat dengan perangkat yang sederhana.

“Secara teknis, sederhananya pengirim mengubah gambar menjadi suara.
Suara tersebut dikirim ke satelit IO-86 melalui radio di frekuensi Uplink, kemudian kami menerima suara tersebut dari frekuensi downlink yang kami ubah menjadi gambar kembali melalui aplikasi decoder SSTV,” imbuhnya.

Fitur satelit ini biasanya digunakan untuk komunikasi darurat dalam kebencanaan di Indonesia, namun dalam hal ini LAPAN memberikan kepada mahasiswa untuk mencobanya guna mendukung program pendidikan.

“Terkait jarak, sebenarnya tidak hanya menjangkau Jakarta-Banjarnegara, bisa lebih jauh lagi hingga ke Thailand, Filipina, India Bahkan Australia sebab footprint dari satelit IO-86 cukup lebar,” jelas Havid.

Saat uji coba kemarin, rekan-rekan amatir radio di seluruh Indonesia juga mencoba menerimanya di tempatnya masing-masing. Dari Sumatera hingga Ambon mereka menerima gambar yang sama.

Dalam uji coba tersebut mereka tidak hanya berkirim media pembelajaran, mereka juga berkirim beberapa ucapan dan foto Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Nadiem Makarim.

Sementara, Kepala SDN 4 Kalisat Kidul, Surur Anwar dibuat tercengang dengan apa yang dilakukan oleh para mahasiswa tersebut.

“Ini cukup fenomenal, mengingat sangat langka atau bahkan baru pertama kalinya satelit IO-86 atau satelit LAPAN A2 ini digunakan untuk misi Pendidikan di Indonesia,” ujarnya.

Kepala Sekolah tidak membayangkan sebelumnya jika di sekolahnya bisa diterapkan alat secanggih ini untuk mendukung pembelajaran dan sangat mengapresiasi perihal tersebut. (Nur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *