13/09/2021

Banyumas Pos

Cablaka-Optimis-Berani

Renungan Hati Seorang PSK, Meski Terhina Bagi Orang Lain, Namun Pahlawan Buat Anaknya

PURBALINGGA (BANYUMAS POS) – Pekerjaan apapun dilakukan seseorang demi mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah Satunya dengan berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). Sebut saja Mawar (47), dalam kesehariannya ia mencari nafkah dengan berprofesi sebagai PSK di salah satu tempat prostitusi di wilayah Purbalingga.

Menurut pengakuan Mawar saat ditemui wartawan Banyumas Pos di lokasi menuturkan, hal itu terpaksa ia lakukan lantaran faktor kesulitan ekonomi dan demi mendapatkan rezeki.

Berawal dari Tim yang mengunjungi salah satu tempat prostitusi di wilayah Purbalingga pada Minggu (12/9) berangkat pukul 18.30 WIB menuju lokasi. Setibanya di lokasi, Tim kemudian duduk santai sambil menunggu para perempuan PSK keluar.

Kedatangan Tim untuk mencari keterangan dari salah satu perempuan PSK yang menawarkan jajanan malam kepada para pria hidung belang. Dikarenakan PSK tak kunjung keluar, Tim kemudian memutuskan berkeliling hingga akhirnya berhasil menemukan tempat pangkalan para PSK.

Saat di pangkalan, Tim bertemu dengan seorang PSK sebut saja Mawar dan tak kemudian Mawar mencoba menawarkan diri mengajak ML dengan tarif Rp 70 ribu. Salah satu Tim kemudian merespon dengan menuruti ajakan perempuan tersebut.

Salah satu dari Tim yang merespon tersebut kemudian mencoba menggali informasi dengan mengajak perempuan tersebut untuk mengobrol terlebih dahulu. Diawali dengan pertanyaan berapa biasanya melayani pelanggan dalam satu malam dan Mawar menjawab tidak tentu.

“Terkadang satu malam saya melayani 3 orang dengan tarif normal Rp 70 ribu, tapi terkadang ada yang menawar Rp 50 ribu. Kalau sedang sepi, ada yang menawar Rp 30 ribu pun saya terima dengan terpaksa daripada pulang nggak bawa uang,” ungkapnya.

Mawar menambahkan, jumlah keseluruhan PSK kurang lebih berjumlah enam orang. Dan prostitusi dilakukan di dalam rumah maupun di kamar mandi, sesuai kemauan dari para pelanggan.

Saat ditanya profesi menjadi PSK melanggar agama dan berdosa, ia mengakui hal tersebut. “Saya lakukan ini karena ekonomi, anak saya masih sekolah dan butuh biaya besar, sedangkan saya tidak punya suami yang menafkahi,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Ia menceritakan awal mula menjadi seorang PSK berawal dari saat ia dipaksa suaminya untuk menjual diri sebagai PSK demi mendapatkan uang. Dan dengan situasi ekonomi yang sulit saat ini ditambah statusnya yang kini seorang diri tanpa adanya suami, sehingga membuatnya kembali menjadi seorang PSK guna mendapatkan rezeki.

“Siapa sih yang ingin jadi PSK melayani sembarang orang yang tidak dikenal kalau bukan karena kebutuhan ekonomi dan saya tidak akan melakukan ini kalau hidup saya berkecukupan, saya membiayai anak sampai SMA dengan segala cara. Alhamdullilah anak saya tidak tahu saya menjual diri,” kata Mawar.

Usai menggali informasi, Tim kemudian memberikan sedikit uang kepada Mawar setara dengan tiga pelanggan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Selanjutnya, Tim meminta perempuan tersebut untuk kembali ke rumahnya. Dengan wajah senang bercampur haru, Mawar kemudian bergegas pulang.

Sebuah pelajaran berharga yang didapat dari kisah Mawar tersebut yakni perjuangan seorang ibu yang rela menjual diri untuk anaknya dan merupakan sebuah perjuangan. Perempuan tersebut merupakan pahlawan untuk anaknya walaupun terhina bagi masyarakatnya. (Nur/Mar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *