27/04/2021

Banyumas Pos

Cablaka-Optimis-Berani

Pupuk Bersubsidi di Desa Banjareja Dijual Diatas HET

CILACAP (BANYUMAS POS) – Petani Cilacap mengeluhkan murahnya harga gabah hasil panen di tahun ini yang tidak sebanding dengan mahalnya harga pupuk, salah satunya pupuk bersubsidi yang diperuntukan untuk petani bersumber dari subsidi Pemerintah melalui Kartu Tani.

Hal tersebut diungkapkan salah satu petani Desa Banjareja, Kecamatan Nusawungu, Cilacap yang tidak mau disebut namanya saat ditemui, Rabu (21/4/2021).

Dia menjelaskan, telah membeli pupuk bersubsidi di Kios Pupuk Lengkap (KPL) Tunas milik Sujarno yang berlokasi di Desa Banjareja.

Pupuk jenis urea dibeli olehnya seharga Rp 120.000,- per kantong. Sedangkan phonska Rp 125.000,- per kantong. Masing-masing kantong pupuk tersebut berisi 50 kilogram.

Sedangkan, Pemerintah telah menentukan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sesuai Peraturan Menteri Pertanian No 49 tahun 2020 per tanggal 30 Desember 2020 yaitu harga pupuk jenis urea Rp 112.500,- sedangkan phonska Rp 115.000,- per kantongnya.

Saat dikonfirmasi, Sujarno selaku pemilik Kios Pupuk Lengkap (KPL), agen pupuk bersubsidi Desa Banjareja, Kecamatan Nusawungu mengakui telah menjual pupuk bersubsidi namun tidak sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditentukan oleh Pemerintah.

Sujarno mengatakan telah menjual pupuk bersubsidi jenis urea seharga Rp 120.000,- per kantong. Sedangkan phonska dijual seharga Rp 125.000,- per kantong kepada para petani.

Dia beralasan, menaikan harga pupuk bersubsidi karena adanya biaya untuk pembelian buku e-RDKK sebanyak 3 buku dengan harga Rp 200.000,- per buku.

Menurut pengakuannya, uang tersebut kemudian dikumpulkan ke KPL milik Tarno selaku koordinator KPL di wilayah Kecamatan Nusawungu dan selanjutnya diberikan untuk Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Nusawungu.

Selain itu, juga Sujarno menjelaskan, saat penandatangan SPJB dirinya dikenakan biaya sebesar Rp 500.000,- selanjutnya diserahkan kepada admin distributor saat itu. Oleh karena itu, adanya hal tersebut membuatnya tidak menjual pupuk bersubsidi sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Sementara, Turip selaku admin Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Nusawungu yang juga pengurus pupuk bersubsidi didampingi Hari Purwanto selaku koordinator PPL saat dikonfirmasi membantah adanya pengakuan dari Sujarno tersebut.

Dia menjelaskan, pihaknya tidak pernah menjual, namun hanya sebatas membantu mencetakkan buku e-RDKK tersebut. Menurutnya, pengakuan dari Sujarno tidaklah benar.

“Saya tekankan bahwa kita disini hanya mencetak buku dan tidak menjual apalagi meminta kepada mereka,” kata Turip.

Dalam penjelasannya, Turip mengatakan adanya pemberian dari Distributor namun pihaknya tidak meminta dan saat ditanya tidak mengetahui uang tersebut uang apa.

“Dari awal pengimputan sampai pencetakan kita tidak memiliki anggaran untuk biaya pencetakan. Uang cetak sama sekali tidak ada, sedangkan kita mencetak buku sebanyak 4 eksemplar atau 4 rangkap yang harus ditandatangani oleh Ketua kelompok tani.

Menurut Purwanto selaku koordinator PPL Nusawungu dalam pembuatan e-RDKK membutuhkan sarana dan prasarana salah satunya biaya kertas untuk mengeprint dan lainnya. (Gal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *