31/07/2021

Banyumas Pos

Cablaka-Optimis-Berani

Politeknik Banjarnegara Bantu Pemerintah Turunkan AKI

BANJARNEGARA (BANYUMAS POS) – Angka kematian ibu (AKI) dan bayi baru lahir di Indonesia yang masih tinggi menjadi keperihatinan bagi pemerintah dan masyarakat sampai hari ini. Demikian juga dengan angka neonatal yang juga tidak kalah tinggi.

Neonatal atau kehidupan pertama yang dialami oleh bayi tersebut biasanya pada usia 28 hari terhitung dari awal kelahiran. Data para peneliti menunjukkan bahwa setiap 1 jam, di Indonesia 2 ibu dan 8 bayi baru lahir meninggal.

Angka neonatal ibu mencapai 305 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dan angka kematian neonatal mencapai 15 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2017.

Hal tersebut diungkapkan ilmuwan kebencanaan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), Direktur Politeknik Banjarnegara di Jawa Tengah, Dr Tuswadi.

Fakta ini memantik kampus Politeknik Banjarnegara melalui Program Studi Kebidanan untuk turut membantu Pemerintah melakukan usaha-usaha ilmiah guna menurunkan tingkat kematian ibu hamil dan bayi. Terlebih di wilayah kabupaten Banjarnegara, kasus kematian ibu hamil dan bayi juga telah banyak.

Seperti disampaikan oleh Ketua Program Studi Kebidanan Politeknik Banjarnegara, Dian Nirmala Sari. Kurikulum di Prodi Kebidanan mengakomodir asuhan kebidanan CoC (continuity of care) dan OSOC (one student one client).

Lebih lanjut, Continuity of care ini merupakan asuhan berkesinambungan dari hamil sampai dengan Keluarga Berencana (KB).

“Upaya ini untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh dan bermutu kepada ibu dan bayi dalam lingkup kebidanan di mana di Program Studi DIII Kebidanan Politeknik Banjarnegara kami mengaplikasikan Laporan Tugas Akhir (LTA) mahasiswa dengan metode One Student one Client ( OSOC),” jelasnya.

Melalui Praktik OSOC, setiap mahasiswi D-3 Kebidanan turut mengawal satu ibu hamil dengan memberikan pendampingan pelayanan antenatal komprehensif dan berkualitas, pertolongan persalinan sesuai standar, pelayanan Ibu nifas sesuai standar, pelayanan neonatus sesuai standar, dan pelayanan Keluarga Berencana.

Di bawah bimbingan dosen berlatar belakang DIV Kebidanan dan S2 serta pembimbing lahan berlatar belakang DIV Kebidanan, setiap mahasiswi melaksanakan OSOC selama 12 minggu (3 bulan) di Puskesmas wilayah Kabupaten Banjarnegara.

Praktik ini senada dengan inovasi pemberdayaan masyarakat berbasis kewilayahan di bidang kesehatan Ibu dan Anak yang dikembangkan oleh Khusnul Khotimah selaku Kepala Puskesmas yang berhasil menurunkan kasus kematian ibu hamil dan bayi di wilayah Puskesmas Pejawaran melalui OCe OKe (Pendampingan satu ibu hamil satu kader).

OCe OKe dijalankan dengan konsep kerja mencegah 3 terlambat dengan 4 pemantauan yakni jadwal pemeriksaan, deteksi faktor risiko, pantauan kesehatan janin dan P4K. Program tersebut masuk TOP 45 Pelayanan Publik Tingkat Nasional tahun 2019 dan tengah diadopsi oleh hampir seluruh puskesmas.

“Program OCE OK terbukti sangat bermanfaat sebagai upaya preventif dan promotif dalam rangka meningkatkan kesehatan ibu dan anak,” ujarnya.

Menurutnya, dengan pendampingan secara berkelanjutan terhadap seorang perempuan sejak diketahui hamil sampai dengan persalinan dan adanya deteksi dini terhadap faktor risiko maupun komplikasi yang terjadi pada masa kehamilan dan persalinan membuat kesehatan ibu hamil dan bayi lebih terjamin.

Dan saya juga sangat mengapresiasi OSOC Politeknik Banjarnegara karena turut membantu ibu hamil agar makin peka terhadap kesehatan,” kata Khusnul Khotimah di kantornya, Puskesmas 2 Rakit (31/7) ketika dikonfirmasi mengenai OCE OK. (Nur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *