09/04/2021

Banyumas Pos

Cablaka-Optimis-Berani

Pelatihan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Untuk Guru SMA Sederajat se-Banyumas Raya Di Purbalingga

PURBALINGGA (BANYUMAS POS) – Minimnya riset di Indonesia menjadikan kualitas pembangunan manusia Indonesia tergolong rendah. Oleh karenanya, budaya riset perlu digalakkan.

Hal itu diungkapkan oleh Anggota DPR RI Komisi VII Fraksi PKS, Rofik Hananto dalam kegiatan Pelatihan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah untuk guru-guru SMA Sederajat se-Banyumas Raya, di Ball Room Halal Mart Purbalingga, Jumat (9/4//2021).

Dalam kesempatannya, Anggota DPR RI Komisi VII Fraksi PKS, Rofik Hananto menyampaikan bahwa para guru berperan besar dalam membudayakan literasi di kalangan siswa.

“Menulis adalah pintu peradaban ketika verbalisme tidak bisa menjangkau luas. Dengan menulis maka peradaban sebuah bangsa akan terlihat,” jelasnya.

Dia menambahkan, Indonesia hari ini literasinya terendah yaitu di peringkat 61 dunia. Selain itu, saat ini karya paper di Indonesia tidak terlalu banyak. Apa lagi yang berkualitas Internasional.

“Padahal, kompetensi menulis juga dibutuhkan di dunia online dan juga bisnis. Keahlian ini sangat penting, membuat isu yang diterima oleh konsumen. Tag line dan headline juga sangat dibutuhkan. Maka guru dituntut untuk mambentuk siswa bertarung di masa depan,” ujarnya.

Menurutnya, bonus demografi di Indonesia di tahun-tahun mendatang jika tidak disiapkan akan menjadi beban negara.

Peneliti Biomaterial Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI), sekaligus narasumber, Dede Heri Yuliyanto mengatakan kegiatan di Indonesia jumlah peneliti memang masih sangat rendah, baru 216 peneliti per kapita penduduk.

“Di Denmark per kapitanya mencapai 8066. Bahkan kita masih kalah jauh dari Malaysia yang mencapai 2397,” tandasnya.

Dede menambahkan, minimnya jiwa meneliti berimbas pula terhadap karakter masyarakat yang mudah termakan hoax.

“Contoh mudah krisis jiwa meneliti yakni masyarakat kita mudah percaya hoax. Masyarakat kita suka sesuatu yang terlalu bagus untuk jadi kenyataan. Artinya isu terhadap sesuatu yang sebenarnya secara kasat mata tidak mungkin namun mudah dipercaya oleh masyarakat sehingga terpancing hoax,” jelasnya.

Padahal, menurutnya, Indonesia potensial menjadi negara yang superpower, jika menguasai teknologi karena sumber dayanya sangat besar, baik alam maupun manusia.

Sementara, salah satu peserta pelatihan dari SMAN 1 Purbalingga, Ruswanto mengatakan, kegiatan ini sangat bermanfaat karena menambah pendalaman materi mengenai penelitian dan nantinya dapat membimbing siswanya dalam Karya Ilmiah Remaja.

“Pelatihan ini sangat bermanfaat karena pematerinya dari LIPI dan sangat menguasai aspek-aspek detail penelitian karena dari praktisi peneliti,” ujar Ruswanto. (Mar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *