02/05/2021

Banyumas Pos

Cablaka-Optimis-Berani

Ngaku Keturunan Majapahit, Pria Asal Kebumen Cabuli Pasiennya yang Masih Gadis

KEBUMEN (BANYUMAS POS) – Mengaku sebagai titisan Mbah Bondan, MA (40) pria asal Desa Kedalemankulon, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen keturunan darah Kerajaan Majapahit lakukan aksi pencabulan kepada para gadis yang masih di bawah umur.

Kapolres Kebumen, AKBP Piter Yanottama melalui Kasat Reskrim, AKP Afiditya mengatakan, para korban adalah pasien yang akan menjalani pengobatan alternatif kepada tersangka.

Bukannya diobati, para korban yang masih gadis ting-ting itu justru mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya oleh tersangka MA.

“Sampai saat ini baru 4 korban yang sudah melaporkan. Mereka yang melaporkan adalah gadis yang masih di bawah umur,” jelas AKP Afiditya didampingi Kasubbag Humas Polres, Iptu Tugiman saat konferensi pers, Minggu (2/5/2021).

Tersangka melakukan aksi tak pantasnya sejak tahun 2017, di dalam kamar rumahnya di Desa Kedalemankulon.

Para korban berstatus gadis tersebut menjalani pengobatan alternatif karena ingin memiliki kekuatan agar dalam berolahraga memiliki prestasi lebih.

Kepada para korbannya yang kesemuanya adalah warga Kebumen, tersangka mengaku bisa mentransfer ilmu hikmah yang ia dapatkan dari Kerajaan Majapahit.

Namun, karena tak tahan dengan perlakuan cabul tersangka, salah satu korban akhirnya mau bercerita kepada keluarganya dan selanjutnya melaporkan ke Sat Reskrim Polres Kebumen.

Selanjutnya, tersangka berhasil diamankan Sat Reskrim Polres Kebumen pada hari Selasa (20/4) sekitar pukul 11.45 WIB, di rumahtersangka.

“Tersangka kita tangkap tanpa perlawanan di rumahnya,” jelas AKP Afiditya.

Kepada polisi, tersangka bersikukuh mengaku bahwa dirinya adalah titisan Mbah Bondan yang memiliki 11 Istri yang mempunyai gelar dewi.

“Jika akan melakukan ritual pengobatan ataupun pengisian kekuatan, korban yang masih gadis itu dijuluki Dewi dan seketika itu dianggap sebagai istrinya oleh tersangka,” katanya.

Korban yang merasa yakin, akhirnya pasrah kepada tersangka, termasuk saat dicabuli di kamar rumah tersangka.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 82 (2) UU RI No 17 Tahun 2016 tentang penetapan peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang No 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun penjara serta denda paling banyak 5 Miliar Rupiah. (Lia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *