10/01/2022

Banyumas Pos

Cablaka-Optimis-Berani

Kenalkan Sejarah, Komunitas Tjilatjap History Kunjungi Tempat Sejarah di Kesugihan, Cilacap

CILACAP (BANYUMAS POS) – Dalam rangka mengenalkan sejarah yang ada di Kabupaten Cilacap, Komunitas Tjilatjap History kembali menjelajah tempat-tempat bersejarah di Cilacap. Kali ini, rombongan mengunjungi beberapa tempat di wilayah Kecamatan Kesugihan, Minggu (9/1/2021).

Ketua Komunitas Tjilatjap History, Riyadh Ginanjar Widodo mengatakan, kegiatan yang bertajuk ‘Jelajah Kasugihan’ ini diikuti sebanyak 30 peserta dari berbagai daerah seperti Cilacap, Banyumas, Yogyakarta, dan Solo.

“Kami mengunjungi beberapa tempat antara lain Halte Gligir, Pompa Air Pesanggrahan, dan Situs Luitan Pesanggrahan dengan tujuan untuk mengenalkan tempat bersejarah yang ada di Kecamatan Kesugihan ini,” ungkapnya.

Riyadh menyampaikan, kegiatan diawali dengan mengunjungi Halte Gligir yang berlokasi di Dusun Mertelu, Desa Kalisabuk, Kecamatan Kesugihan, tepatnya di antara Stasiun Kasugihan dan Stasiun Karangkandri.

“Halte Gligir ini dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mempermudah perjalanan kereta api dari wilayah barat ke Pelabuhan Cilacap,” ucapnya di Halte Gligir.

Lebih lanjut dijelaskan Riyadh, dengan adanya Halte ini, perjalanan Kereta api dari barat dapat langsung menuju ke pelabuhan Cilacap tanpa harus melewati Stasiun Kesugian untuk memindah posisi lokomotif seperti saat ini.

“Sedangkan nama ‘Kasugihan’ dari Stasiun itu sendiri merupakan sebutan untuk desa Kesugihan saat ini yang tercantum dalam beberapa prasasti,” imbuhnya.

Usai mengunjungi Halte Gligir, rombongan kemudian melanjutkan jelajahnya dengan mengunjungi dua tempat bersejarah lainnya yakni Pompa Air Pesanggrahan dan Situs Luitan Pesanggrahan di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kesugihan.

Diketahui, Pompa Air Pesanggrahan tersebut dibangun pada tahun 1938 dan diresmikan pada tahun 1939. Saat pembangunan melibatkan warga sekitar yang dijadikan sebagai tenaga kuli.

“Pembangunan Pompa Air ini merupakan teknologi baru di Hindia Belanda, biasanya saluran irigasi menggunakan tenaga gravitasi namun disini menggunakan tenaga pompa listrik sebagai tenaga pendorong air,” terang Riyadh saat berada di Pompa Air Pesanggrahan.

Dijelaskan lagi, Pemerintah Hindia Belanda membangun dua buah pompa air di Banyumas yaitu lokasinya di Pesanggrahan, Kesugihan dan di Gambarsari, Kebasen. Pompa Air Pesanggrahan akan mengairi Kesugihan dan sekitarnya untuk mengairi sawah 4010 hektar.

Riyadh saat di Luitan Pesanggrahan kembali menerangkan bahwa nama Luitan telah disebutkan dalam Prasasti Salingsingan yang bertahun 880 Masehi. Dalam prasasti Salingsingan dapat diketahui bahwa desa Luitan termasuk kedalam wilayah Mataram Kuno era Diah Balitung.

Dalam situs Luitan tersebut, Riyadh kembali menjelaskan bahwa terdapat sebuah lingga, sebuah prasasti dari tembaga, dan batu mirip arca yang sampai sekarang hilang. Juga, terdapat mata air dan juga aliran sungai kecil dan bebatuan ukuran besar.

“Dari Prasasti Luitan berangka 901 Masehi yang ditemukan ditemukan tahun 1976 di bawah pohon besar di komplek situs tersebut berisi tentang berupa permasalahan perhitungan pajak yang tidak adil, namun telah diselesaikan dengan mengirim petugas pajak yang lain,” tandasnya.

Ia berharap melalui kegiatan tersebut masyarakat menjadi lebih mengenal dan ikut peduli melestarikan tempat-tempat bersejarah yang ada di Cilacap, khususnya di Kecamatan Kesugihan ini sebagai warisan budaya yang harus dijaga.

Sementara, salah satu peserta dari Solo, Herdiana Rachmawati mengaku bahwa dirinya sudah dua puluh lima tahun meninggalkan Cilacap dan merasa senang dapat mengikuti jelajah tempat-tempat bersejarah ini bersama Komunitas Tjilatjap History.

“Saya tertarik ingin mengenal sejarah Cilacap lebih banyak lagi dan egiatan semacam ini terus dapat dilaksanakan dengan sasaran generasi muda agar mereka lebih mengenal kultur dan sejarah Cilacap,” tutupnya. (Gal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *