15/10/2021

Banyumas Pos

Cablaka-Optimis-Berani

Jimmy : Abrasi Pantai Lengkong Akibat Cuaca Ekstrim

CILACAP (BANYUMAS POS) – Abrasi pantai Lengkong secara tekhnis diakibatkan karena cuaca ekstrim. Dimana sekarang sudah tidak ada musim kemarau, adanya kemarau basah itu juga mempengaruhi cuaca, tinggi gelombang, dan tinggi maksimum gelombang.

Apalagi pantai yang tidak ada teriernya, kalau yang disisi kota ada teriernya Nusakambangan, namun di pantai sini tidak ada teriernya.

Hal tersebut dikatakan PPK Pantai Sungai 1 Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu-Opak, Jimmy Charles RM saat melakukan tinjauan di pantai Lengkong, Kamis (14/10).

Dalam peninjauan tersebut, BBWS Serayu-Opak didampingi Kepala Bidang (Kabid) Air dan Sungai pada Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap.

“Kami menindaklanjuti laporan dari Dinas PSDA Cilacap adanya kejadian tanggul laut yang jebol, dan menyebabkan banjir rob, sehingga air laut masuk ke daratan,” katanya.

Dia menambahkan bahwa untuk mencegah resikonya menjadi lebih besar akan dilakukan penangan darurat, dan kami akan koordinasi dengan Pemkab Cilacap khususnya BPBD sebagai mediasi daruratnya.

“mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah bisa dilakukan penanganan daruratnya terkait dengan tanggul-tanggul yang jebol ini. Untuk yang permanennya akan tetap kita lanjutkan persiapkannya, mungkin di tahun anggaran berikutnya untuk bisa dikerjakan,” tandasnya.

Dia menegaskan, bahwa tanggul darurat biasanya dengan jumbo bag atau sum bag atau dengan bambu minimal untuk menahan sementara, walaupun itu tidak bisa dianggap sukses karena yang namanya penanganan darurat minimal resikonya terkurangi.

Disinggung terkait abrasi lantaran adanya breakwater PLTU, Jimmy menandaskan bahwa kalau dari segi tekhnis itu dipengaruhi cuaca.

“Sekarang kan tidak ada kemarau, adanya kemarau basah itu juga mempengaruhi cuaca, tinggi gelombang, dan tinggi maksimum gelombang. Apalagi pantai yang tidak ada teriernya, kalau yang disisi kota ada teriernya Nusakambangan, namun di pantai sini tidak ada teriernya,” jelasnya.

Menurutnya, bahwa ini dikarenakan dunia sudah semakin tua, jadi musimnya juga semakin bergeser, dan gelombang laut juga mempengaruhi abrasi tersebut.

“Saya pikir tekhnisnya akibat karena gelombang yang lebih besar daripada biasanya. Secara tekhnis bangunan struktur tersebut tidak ada pengaruhnya terhadap besaran gelombang, besaran gelombang itu pengaruhnya ke iklim atau alam,” ujar Jimmy.

Lanjutnya, bahwa kalau bangunan struktur misalkan jetty, itu pengamanan garis pantai, dan itu harus dilakukan secara terus menerus, tidak bisa dilakukan spot spot. Tapi kalau apakah itu yang menyebabkan kerusakan pantai, saya pikir secara tekhnis tidak, dan lebih ke alam.

Ditanya terkait anggaran untuk pengamanan permanen, Jimmy menyatakan, bahwa pengamanan permanen sudah didesign, tapi untuk penganggarannya kita belum bisa pastikan. Sekarang juga lagi musim pandemi, semua fokus anggaran lebih ke kesehatan dan vaksin. Jadi kita sama sama doakan saja semoga bisa terealisasi anggarannya.

Untuk pengamanan permanen masih dalam proses, lanjutnya pekerjaannya macam macam, bisa tanggul laut atau kroin tergantung kebutuhan dan designnya seperti apa waktu menganalisa.

“Kalau gambaran itu tidak bisa langsung, tapi tergantung karakteristis spot spot itu beda beda nantinya. Jadi penanganannya struktur itu macam macam seperti apa yang tadi saya sampaikan,” pungkasnya. (Gal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *