12/08/2021

Banyumas Pos

Cablaka-Optimis-Berani

Guru SD IT AL Ihsan Banjarnegara Lulus Master dari Hiroshima University Jepang

BANJARNEGARA (BANYUMAS POS) – Dwi Fatmawati (29), guru SD IT Al Ihsan Banjarnegara Desa Tapen, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara belum lama ini dinyatakan lulus Ujian Akhir Master Thesis untuk Wisuda S-2 periode September 2021 dari salah satu kampus ternama di Jepang, Hiroshima University pada Sabtu (7/8).

Ia menjadi guru kedua di SD IT yang dipimpin Kepala Sekolah Heri Setiawan setelah sebelumnya Resti Andriyani lulus dari kampus yang sama pada 2019.

Hingga hari ini, SD IT Al Ihsan menjadi satu-satunya Sekolah Dasar di kabupaten Banjarnegara yang memiliki guru berlatar belakang S-2 dari kampus luar negeri.

Awalnya Dwi Fatmawati tidak pernah berfikir atau pun bermimpi untuk bisa kuliah di luar negeri. Ia sadar diri dari keluarga tidak mampu, almarhum ayahnya dulu sempat bekerja sebagai tukang ojek dan mandor bangunan di Jakarta.

Studi S-1 di Pendidikan Bimbingan Konseling (BK) pada FKIP Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta pada saat itu juga ia selesaikan dengan penuh liku, sampai akhirnya menjelang wisuda dia terpilih mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Universitas Hiroshima di Jepang bersama mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) pada tahun 2016.

Bekerja sebagai guru di SD IT Al Ihsan, Dwi lantas mendapatkan tawaran dari pamannya, Dr Tuswadi, untuk lanjut studi S-2 jurusan pendidikan inklusi di Hiroshima dan tanpa pikir panjang tawaran itu diambil olehnya.

Akhir Maret 2019,Dwi tiba di Jepang dan memulai kuliah pada April 2019 di bawah bimbingan Profesor KAWAI Norimune di Graduate School of Humanities and Social Sciences dengan beasiswa JASSO (Kementrian Pendidikan Jepang).

Karena kemampuan bahasa inggris Dwi pas-pasan, awalnya ia mengalami kendala memahami materi kuliah maupun ketika dirinya harus menyusun proposal riset untuk dipresentasikan dalam seminar mingguan bersama Profesor KAWAI dan para mahasiswanya yang berasal dari berbagai negara.

“Mahasiswa asing bahasa inggrisnya bagus dan lancar. Saya sering ditegur Profesor karena komunikasi saya sulit dimengerti akibat keterbatasan bahasa inggris, bahkan beliau meminta saya untuk ambil kursus bahasa Inggris,” ungkapnya.

Menurutnya, benar-benar sebuah tantangan yang luar biasa dapat berkuliah di luar negeri dengan modal bahasa inggris pas-pasan.

“Saya pun kemudian memanfaatkan banyak waktu untuk belajar menguasai bahasa inggris menggunakan Youtube dan sejenisnya,” kata Dwi via sambungan telepon.

Untuk menyelesaikan studi S-2, selain kuliah dengan total 30 SKS, Dwi juga wajib menyusun Master Thesis. Dengan latar belakang pendidikan S-1 di BK.

Karena Profesor pembimbingnya adalah pakar pendidikan inklusi dan anak-anak berkebutuhan khusus, Dwi mengambil topik “Parental Acceptance and Views on Education for Children with Special Needs in Public Special Schools in Banjarnegara, Central Java, Indonesia” dengan mengambil dua SLB Negeri di Kabupaten Banjarnegara.

Pada saat itu terkendala pandemi Covid-19 sehingga menyebabkan Dwi tidak boleh pulang ke Indonesia untuk mengumpulkan data penelitian di Banjarnegara secara langsung.

Saat di semester 5, ia berhasil melakukan penelitian secara daring dengan menerjunkan beberapa research asistants di Banjarnegara untuk membagikan kuesioner penelitian kepada seluruh orang tua peserta didik di dua sekolah di bawah panduan para guru.

“Alhamdulillah Kepala Sekolah, ibu Atut Yuliarni dan guru-guru di dua SLB sangat mendukung riset saya. Mereka memberikan kemudahan, memberi waktu bagi research assitants yang bertugas untuk bertemu orang tua pada saat acara di sekolah dan oleh para guru, orang tua bisa menjawab secara tertulis kuesioner yang dibagikan. Data pun saya dapat dan saya analisis dengan baik,” tuturnya.

Untuk wawancara, Dwi melakukannya via telepon dengan orang tua yang telah diberikan nomor teleponnya oleh pihak sekolah.

“Saya sangat berterima kasih kepada SLB Negeri Banjarnegara dan SLB Negeri Mandiraja,” ucapnya penuh haru.

Dwi mengaku bahwa selama pembimbingan thesis, dirinya mengalami banyak pembelajaran bersama Profesornya seperti kesabaran, pantang menyerah, ketelitian, dan kejujuran.

“Profesorku orangnya teliti banget, mengecek draft thesisku seperti per huruf. Sering saya kena semprot karena kurang teliti. Beliau juga sangat membantuku untuk analisis data secara statistik,” ujarnya.

Sering ia menangis jika berulang-ulang terkena marah Sensei! “Kuliah di Jepang benar-benar mengajariku nilai kehidupan yang sangat berguna,” lanjut Dwi yang pernah meraih Juara I Lomba Menulis Surat Kartini yang digelar oleh Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) Osaka pada Mei 2021.

Master Thesis yang disusun sebanyak 60 halaman lebih akhirnya disetujui oleh Profesor setelah diuji secara terbuka dan tertutup pada 7 Agustus 2021. Wisuda S-2 di Hiroshima University dijadwalkan pada tengah September 2021.

Ditanya rencana paska raih M.Ed (Master of Education), Dwi mengaku akan langsung pulang kampung dan kembali mengabdikan dirinya menjadi guru di SD IT Al Ihsan. (Nur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *