01/10/2021

Banyumas Pos

Cablaka-Optimis-Berani

Edi Purwanto: Partai Digerogoti Oknum Ambisius, Kader Arus Bawah Inginkan Perubahan

CILACAP (BANYUMAS POS) – Aksi walk out (WO) yang dilakukan 12 PAC dalam ajang Musyawarah Cabang (Muscab) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Cilacap belum lama ini, berbuntut tuntutan perubahan terhadap kepengurusan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PPP Cilacap.

Edi Purwanto, salah satu kader PAC PPP Cilacap menduga adanya oknum di internal PPP yang bermain dalam Muscab, bagaimana membelokkan Muscab ini yang aturannya sebenarnya sudah tepat, tetapi dibelokkan lagi.

Menurut Edi, Muscab PPP kemarin telah diciderai oleh oknum yang berambisi ingin menancapkan kukunya menjadi pengurus. “Saya kira DPW bersih dan nggak ada permainan. Tapi oknum DPC-lah yang bermain, bagaimana membelokkan Muscab ini. Insya Allah DPW akan mendengarkan,” ucapnya.

Sebagai kader, lanjut Edi, pihaknya siap dan tidak perlu ribut, dan sebenarnya kita sudah membuka mata hati pengurus yang di atas.

“Mudah-mudahan ini didengar oleh DPW sehingga mengetahui. Masa iya yang dapat suara terbanyak dikalahkan oleh suara 2, 4, 5. Rasa keadilannya di mana,” ujarnya.

Hak-haknya harusnya sama, merasa dilindungi. Tetapi dalam hal ini siapa nanti yang bermain.

Edi juga menyimpulkan bahwa ini kerugian bagi partai yang telah membesarkan kadernya, tetapi tidak dilindungi secara umum.

Yang mengamati Muscab ini kan banyak, bukan hanya PPP. Termasuk media massa mengamati bahwa Edi Purwanto-lah yang mendapat suara terbanyak, dan ini diakui oleh DPW bahwa Edi suaranya terbanyak yaitu 13 suara, lainnya 2, 4, 5.

“Kalau main jujur-jujuran, yang menjadi ketua Edi. Tapi saya kembalikan kepada DPW yang memiliki kebijakan. PAC inginkan adanya perubahan di dalam, karena kalau saya yang jadi minimal pembangunan kantor DPC PPP menjadi prioritas pertama,” katanya.

Disinggung keinginan kader, Edi Purwanto menjawab bahwa ia bersama kader arus bawah meminta adanya perubahan dalam kepengurusan DPC PPP Cilacap.

“Tetapi mereka yang lama tidak mau, seolah-olah ingin terus mempertahankan. Padahal sepengetahuan kita, PAC-PAC boleh ditanya, kumpulkan semua warga PPP bahwa kepengurusan yang sekarang itu tidak becus,” tandasnya.

Edi menekankan, kepengurusan DPC PPP saat ini harus diubah. Pasalnya, pengurus tidak pernah melaporkan pertanggungjawaban partai, juga dugaan penjualan aset partai oleh pengurus.

“Tidak pernah dilaporkan selama lima tahun,” tegas Edi Purwanto saat ditemui di gedung DPRD Kabupaten Cilacap, Kamis (30/9/2021) siang.

Dikatakannya, pengurus yang sekarang sudah banyak melanggar AD/ART partai.

Kepada pengurus PPP, Edi mengingatkan bahwa di dalam kepengurusan DPC banyak benalu yang menggerogoti partai. Buktinya, PPP itu bukan partai kecil, tapi partai besar, namun tidak memiliki kantor DPC. Setelah memiliki kantor kok malah dijual. Terus uangnya ke mana? tanya Edi.

Dia mengungkapkan bahwa pengurus tidak pernah melaporkan keberadaan aset partai dan lima tahun tidak pernah dilaporkan ke konstituen. “Katanya soal aset sudah diperiksa BPK, tetapi ke bawah nggak dilaporkan. Juga PPP sebagai partai besar masa nggak punya kantor,” ucapnya keras.

Padahal, katanya, banpol itu ada. “Selama 5 tahun belum pernah dilaporkan di Muscab,” ungkapnya.

Ditanya apa sudah pernah diperiksa oleh BPK, Edi mengatakan bahwa pertanggungjawaban kepada konstituen PPP belum ada dan konstituen belum pernah diberitahu, hanya pengurus.

Selanjutnya diterangkan, banyak warga PPP yang ikut bangga bahwa kita sudah memiliki kantor, tidak seperti kucing boyongan.

Sangat disayangkan, ujarnya, yang seharusnya DPC PPP sudah memiliki kantor sendiri malah dijual, dan selama 11 tahun tidak dipajak, serta wibawanya patut diragukan kalau seperti ini.

Tentang pendidikan politik, ia juga mempertanyakan. Malah ia mengungkapkan bahwa PAC tidak kerumat dan baru kali ini bertemu untuk dikumpulkan di Muscab yang selama ini nggak pernah.

Kita tahu, tambah Edi, sebuah partai yang digerogoti oknum, dia tidak akan bercita-cita ingin menghidupi partai, namun bagaimana dia hidup dari partai.

“Itu yang akan merusak PPP sebagai partai besar. Jadi, saya hanya menyarankan, pemimpin-pemimpin yang di atas bisa membuka mata lebar-lebar dan mendengarkan apa yang menjadi keluhan di bawah, serta bagaimana membesarkan aset partai yang ada di bawah, yaitu akar rumput,” katanya.

Sebagai kader PPP, apapun alasannya, ia minta supaya PPP berkembang ke depannya. “Intinya, jangan ada keributan. Apalagi di-deadlock di Muscab kemarin,” sebut Edi.

Menurut Edi, setelah Muscab ini sebenarnya momentum yang baik, misal PPP arahnya ke depan mau bagaimana.

“Semua sudah tahu. PAC bukan orang-orang bodoh, dan orang-orang terpilih menjadi pimpinan anak cabang. Saya anggota DPRD, dipilih oleh rakyat. Tetapi saya hormat sama PAC, karena PAC dengan ranting-rantingnya itulah sebetulnya yang membesarkan partai,” jelas Edi.

Ia lantas memastikan bahwa nggak ada DPC hebat, yang ada calegnya yang hebat. Begitu menjadi DPR, itulah yang hebat. DPC akan dianggap hebat kalau kemudian anggota DPR-nya banyak.

“Tapi DPC dianggap mandul apabila tidak ada DPR-nya. Di sinilah kita membutuhkan simbiosis mutualisme, saling menghargai, saling memberi. Jadi jangan saya loh DPC, tetapi bagaimana membesarkan partai,” ungkapnya.

Ia menandaskan percuma jadi pengurus besar, tetapi cari suara tidak bisa, cari calon juga tidak bisa. Lalu mereka kerjaannya apa, mborosi uang negara.

Terkait hasil formatur Muscab, ia menandaskan tidak diulang, namun telah digulirkan oleh DPW dan DPW saat ini sedang bekerja mencari formula terbaiknya seperti apa, supaya tidak ada perpecahan di dalam PPP, karena akan merugikan semua pihak.

Kalau ada Muscab ulang, menurutnya lebih baik. Pihaknya sepakat untuk membuat Muscab ulang yang cantik, elok, dan penuh rasa persaudaraan.

“Di dalam Muscab ini, yang namanya pertarungan kalah menang tidak ada masalah sebetulnya. Kalau mau bertarung ya bertarung, tidak juga tidak apa-apa. Tapi yang namanya perselingkuhan, perselisihan yang diarahkan sana demi menjatuhkan seseorang, inilah yang kurang baik,” ujarnya.

Disampaikan Edi bahwa PPP ialah partai agama. “Politik memang menghalalkan segala cara, tetapi kita punya etika, akhlak, moral. Inilah yang seharusnya menjadi pegangan PPP,” tutup Edi Purwanto. (Gal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *